Problematika dalam menghafal Al Qur’an

Problematika dalam menghafal Al Qur’an, Lupa

 

Taujih Ust. Abdul Aziz AR, Lc. pada acara YQ

Manusia berasal dari kata Al Insaan, seakar kata dari Nasiyaa, yang artinya lupa.

Sudah menjadi fitrah bagi manusia akan mengalami kondisi lupa. Akan tetapi perlu kita fahami bahwa kondisi lupa ada batasan syar’inya.

Ada 2 macam bentuk lupa dalam diri manusia, yaitu :

  1. Lupa yang bersifat Al-Basyariyah

Artinya lupa yang bersifat manusiawi yang terjadi pada diri semua manusia, akan tetapi sifatnya sementara waktu, tidak menjadi sebuah kebiasaan yang melekat pada diri seseorang sehingga menjadi sebuah karakter yang negatif.

  1. Lupa yang bersifat Al-iimaani

Artinya lupa yang sudah menjadi karakter kebiasaan yang sulit di hilangkan pada diri seseorang.

Dalam proses Hifzhul Qur’an ( menghafal Qur’an ), masalah lupa merupakan bagian yang tidak terpisahkan, hal ini sudah menjadi ketetapan dari Allah SWT. Hikmahnya adalah kita dituntut untuk banyak mengulang bacaan ayat –ayat yang sudah dihafal sehingga dapat mendatangkan pahala yang lebih banyak lagi.

Masalah lupa dalam menghafal Qur’an akan mendapatkan pengampunan yang syar’I dari Allah SWT, dengan syarat selama kita tidak pernah berhenti berinteraksi bersama Al Qur’an walaupun hanya tilawah saja, terlebih dari hal itu adalah kita masih komitmen dengan Muraja’ah ( mengulang ) hafalan.Maka hal inilah yang termasuk kedalam kategori lupa yang bersifat Al Basyariyah (Manusiawi ).

Sikap yang harus kita lakukan didalam menyikapi masalah lupa dalam Hifzhul Qur’an ini adalah tetap istiqomah untuk terus berjuang dalam melanjutkan hafalannya, jangan sekali –kali terlalu merisaukan dan mengkhawatirkan akan hal itu karena akan berimbas kepada semakin malasnya didalam menghafal Qur’an, dan inilah perangkap syetan sebagai musuh yang nyata bagi umat manusia.

Sebagai bahan perenungan bagi kita adalah kisah seorang Imam di Masjidil Haram. Pernah suatu saat tatkala sedang mengimami Shalat Shubuh, imam tersebut salah dalam membaca Surat Al Qomar, padahal kita tahu bahwa yang menjadi imam disana adalah orang pilihan yang memiliki hafalan yang cukup kuat. Tapi begitulah realita dalam dunia Hifzhul Qur’an, lupa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari para penghafalnya.

Sikap lupa harus kita sikapi dengan cara yang positif, misalnya dengan cara mengulang kembali hafalan yang kita miliki, hal itu dilakukan sebagai bentuk dari ‘Iqab ( denda ) atas sikap lupa tersebut.

Banyak faktor yang dapat mengundang sikap lupa dalam menghafal Qur’an, salah satu contohnya adalah Katsrotu Adz Dzunuub ( banyak dosa ). Oleh karena itu mari kita berlindung kepada Allah SWT dari sifat orang –orang yang senantiasa melalaikan Al Qur’an. Jangan sekali – kali mengatakan “ saya lupa ayat ini dan itu “, akan tetapi ucapkanlah “ saya terlupakan “, artinya adalah tidak ada niat untuk melupakan Al Qur’an.

Allah berfirman dalam QS. Thaha : 124

“…..Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta….. “

Allaahumma dzakkirnii minhu maa nasiitu wa ‘allimnii minhu maa jahiltu…

Ya Allah…..Ingatkan hamba bila ada ayat yang hamba lupa megingatnya, ajarkan pada hamba, ayat yang hamba bodoh memahaminya……..

Wallaahu a’lam bish Shawaab…

Sumber: https://ltqjendelahati.wordpress.com/2009/03/25/problematika-dalam-menghafal-al-quran-lupa/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.